Kamis, 15 Juli 2010

Menolak Tanpa Berkata "Tidak" pada Bos

Kadang-kadang Anda merasa, ide bos Anda terdengar sedikit bodoh. Atau, mungkin pernah Anda mengalami, jam kerja sudah lewat dan tiba saatnya pulang tapi bos memanggil dan mengajak Anda meeting. Pendek kata, ada saat ketika Anda merasa harus berkata tidak pada bos. Tapi, itu tak pernah terkatakan sehingga Anda berada dalam situasi penuh tekanan dan keterpaksaan yang tidak mengenakkan. Satu-dua kali sih, fine-fine aja. Tapi, lama-kelamaan Anda jadi stres juga. Sebab, pada kenyataannya, hal seperti itu lebih sering terjadi ketimbang tidak.

Berurusan dengan atasan pada dasarnya memang seperti memasuki sebuah wilayah yang rumit. Pada umumnya, yang namanya bos, karena jabatannya yang lebih tinggi, cenderung tidak bisa menerima penolakan dari anak buahnya. Oleh karenanya, perlu trik tersendiri untuk menolak segala sesuatu yang datang dari atasan yang menurut Anda "salah". Hal pertama yang perlu diingat, menolak tak selalu identik dengan berkata "tidak". Ada frasa yang lebih halus untuk menggantikannya, sehingga di telinga bos tidak serta-merta terdengar sebagai suatu penolakan. Sinonim dari "tidak" adalah "oke, tapi..."

Penting untuk diperhatikan sejak awal dalam hal ini adalah sejauh mana Anda memahami bos Anda. Dengan kata lain, kenali bos Anda, atasan "macam apa" dia. Banyak bos yang tipenya "tidak mau tahu", dan apa pun argumentasi Anda, bos semacam itu akan dengan enteng membalas dengan kata yang sama, "tidak". Mereka seperti orang tua di rumah yang tidak mau dibantah. Hendaknya Anda mengerti betul sifat-sifat bos Anda, sehingga bisa men-setekspektasi sejak awal.

Lebih jauh, berikut tips untuk membantu agar penolakan Anda kepada bos berjalan dengan mulus:

-- Sepakati sejak awal bahwa bos Anda tidak ingin Anda menjadi "yes man".

-- Pastikan bos Anda tidak salah paham mengenai penolakan Anda. Bos perlu tahu apa makna kata "tidak" yang Anda ucapkan: apakah sekedar "tidak mau" atau memang Anda alasan yang masuk akal.

-- Menyelaraskan diri dengan tujuan atasan. Kalau perlu gunakan data untuk menunjukkan bahwa penolakan Anda justru menguntungkan bagi bos Anda.

-- Jadikan semua itu sebagai dorongan atau tantangan. Suatu saat jika kelak Anda menjadi atasan, Anda akan lebih bisa berempati dengan anak buah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.